Langsung ke konten utama

Postingan

PASUTRI AMBO JAYA - Bab IV — Ketika Pola Jahit Itu Berpindah ke Tong Sampah

  Bab IV — Ketika Pola Jahit Itu Berpindah ke Tong Sampah Enam bulan. Tidak terasa, sudah enam bulan sejak papan nama Ambo Jaya — Sahabat Bangunan dan Teknik mulai berdiri di tepi Jalan Lubuk Lintah. Enam bulan yang penuh dengan cerita. Tentang keberanian. Tentang rasa takut. Tentang pelanggan pertama. Tentang hari-hari sepi dan hari-hari ketika toko mulai ramai. Dan kini, ada satu pemandangan sederhana di sudut rumah yang membuat Rahmi berhenti sejenak. Sebuah tong sampah. Di dalamnya, tergulung rapi beberapa lembar koran dan kertas. Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah sampah biasa. Namun bagi Rahmi, benda-benda itu menyimpan cerita yang panjang. Pola jahit. Pola-pola yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan Rizal. Pola untuk membuat pakaian. Pola untuk memotong kain. Pola yang dulu hampir setiap hari memenuhi ruang kerja Syuhada Tailor , usaha Rizal sebelum Ambo Jaya hadir. Rahmi memandang tong sampah itu cukup lama. Kemudian ia tersenyum. "Uda..." Rizal ...
Postingan terbaru

PASUTRI AMBO JAYA - Bab III — Hari Pertama Ambo Jaya Dibuka

  Bab III — Hari Pertama Ambo Jaya Dibuka Pagi itu, Mei 2026 terasa berbeda. Jalan Lubuk Lintah sudah mulai ramai. Suara kendaraan bersahutan, sesekali terdengar klakson dari pengendara yang terburu-buru mengejar waktu. Di sebuah toko sederhana di pinggir jalan, dua orang berdiri di depan pintu yang baru saja dibuka. Rahmi memandang ke dalam toko. Rak-rak sudah terisi. Barang-barang teknik tersusun meski belum semuanya sempurna. Semen, pipa, sambungan, kabel, baut, cat, dan berbagai kebutuhan bangunan mulai memenuhi sudut-sudut toko. Tidak banyak. Tapi cukup untuk membuat hati mereka berdebar. Di atas toko, sebuah papan nama baru terpampang: TOKO BANGUNAN AMBO JAYA Sahabat Bangunan dan Teknik Rahmi tersenyum. "Uda..." "Iya?" "Jadi juga kita buka." Rizal memandang sekeliling. "Iya." "Rasanya kayak mimpi ya." Rizal tertawa kecil. "Yang penting jangan mimpi lagi. Ini nyata." Rahmi ikut tertawa. Namun setelah tawa itu berhenti, ke...

PASUTRI TB AMBO JAYA - Bab II — Ketika Rumah Impian Berubah Menjadi Ambo Jaya

  Bab II — Ketika Rumah Impian Berubah Menjadi Ambo Jaya Sebelum ada papan nama Toko Bangunan Ambo Jaya di tepi Jalan Lubuk Lintah, sebenarnya Rahmi dan Rizal punya mimpi yang lain. Mimpi yang sederhana. Sebuah rumah. Tidak harus besar. Tidak harus mewah. Cukup sebuah rumah yang bisa mereka sebut sebagai rumah sendiri. Tempat pulang setelah lelah bekerja, tempat anak-anak tumbuh, dan tempat mereka menua bersama. Bertahun-tahun mereka menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Ada uang yang sengaja tidak disentuh. Ada rezeki yang langsung disimpan. Setiap kali tabungan bertambah, Rahmi selalu berkata, "Bang, kalau sudah cukup, kita bangun rumah ya." Rizal biasanya hanya tersenyum. "Iya. Pelan-pelan." Mereka tahu, membangun rumah membutuhkan waktu. Maka mereka tidak terburu-buru. Sampai suatu hari, kehidupan membawa mereka pada sebuah pertanyaan besar: Bagaimana kalau tabungan rumah itu digunakan untuk sesuatu yang bisa menghasilkan? Awalnya tidak mudah. Rahmi dan Rizal ...

PASUTRI TB AMBO JAYA - BAB I Empat Bulan Pertama Ambo Jaya

  Empat Bulan Pertama Ambo Jaya Mentari pagi baru saja menyapa Jalan Lubuk Lintah. Deretan kendaraan mulai memenuhi jalan raya. Di sudut jalan yang strategis berdirilah sebuah toko sederhana dengan papan nama berwarna oranye dan hitam bertuliskan: TOKO BANGUNAN AMBO JAYA Sahabat Bangunan dan Teknik Sudah empat bulan toko itu berdiri. Semuanya berawal pada bulan Mei 2026. Rahmi dan suaminya, Rizal, memutuskan membuka usaha dengan modal yang mereka kumpulkan sendiri. Tidak ada investor. Tidak ada pinjaman besar. Hanya tabungan bertahun-tahun, keberanian, dan keyakinan bahwa rezeki akan datang kepada orang yang mau berusaha. Hari-hari pertama tidak mudah. Ada hari ketika hanya dua atau tiga pelanggan yang datang. Ada pula saat mereka duduk berdua di depan toko sambil berharap ada kendaraan yang berhenti. Namun mereka tidak pernah menyerah. Setiap pagi, Rizal menyusun semen, cat, pipa, dan berbagai perlengkapan teknik agar terlihat rapi. Sementara Rahmi mencatat stok barang, melayani p...

PJJ Kembali

Hari ini Rabu 16 Sept 2026, Kota Padang sedang tidak baik baik saja, pagi itu seperti biasa, Bunda dan Karim sudah bersiap menuju kantor dan menuju sekolah. Setelah semua dirasa oke, Bunda langsung order maxim, dengan menggendong Ara sebelah kiri, dan memegang hp sebelah kanan. Bunda menciumi Ara dibalik masker putih bunda. Ara pun tersenyum simpul, yap rutinitas bunda setiap pagi, untuk mengisi tangki cinta itu, semoga aja ,meluber kemana mana hehehe. "Bunda berangkat dulu ya sayang" ucap bunda kemudian sambil menyerahkan gendongan Ara ke Ayah, yang sedari tadi udah mulai melayani pembeli pertama di TB Ambo Jaya. "Iya bunda, 2 hari lagi Jum'at kan nda?" balas Ara kemudian. "Bukan nak, tinggal 1 hari lagi"sahut bunda "Yeees"ucap Ara lagi. Setelah itu bunda memakai helm dan menaikkan karim setelah bersalaman dengan Ayah, posisi belakang lebih baik untuk Karim, mengingat kabut asap makin pekat di kota Padang. Melewati simpang Alai, lampu merah ...

Support System Terbaik

 Alhamdulillah pagi ini Tanggal 10 Sep 2026 duo bocah tinggal sama ayah di Toko Ambo Jaya dan Toko Syuhada Tailor, makasih suamiku untuk support system nya, walau emang nanti ada aja yang bikin Ayah keteteran, tapi dengan mereka berdua Ayah jadi rame kan hehehe.  Bunda udah mau rencana bawa Ara kekantor, tapi Ayah berucap "Biar keduanya disini saja, kondisi cuaca ndak baik untuk mereka motoran sampai kekantor Bund".   Ya, ini hari kedua diberlakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) jadi Uda Karim tidak masuk sekolah sampai Jum'at esok, pelajaran digantikan dengan murajaah surat pendek. Kemaren setoran suratnya, Al falaq dan Annas, hari ini Al ikhlas. Kemaren itu Uda Karim dirumah nenek, jadi videonya dikirim oleh mah eda ke Bunda, atas kerjasama mah eda bersama nenek, untuk hari ini, baru jam 08.47 wib, udah masuk chat dari Ayah, karena sebelumnya Bunda juga kirim VN ke hp Ayah. "Yah, hari ini tugas Uda Karim dari bu Guru setor murajaah surat Al Ikhlas yah, moga aja Kar...

SAVE KENANGANMU

 Bismillah Alhamdulillah ndak nyesal nyisihin sedikit rupiah dan waktu untuk milih foto2 mereka waktu kecil. Kemaren mereka buka lagi album yg mereka ambil di lemari, sambil bicara ke ayah. 👦🏻 : "Yah, masih kuat ndak lempar Karim ke udara kayak gini? sambil tunjukin fotonya di pantai yang ayah lempar ke udara waktu dia masih usia 3 th. 👨🏻‍🦱: "Waah, Ayah coba dulu ya, kan Karim sekarang udah gede, ucap Ayah sambil memandang album foto itu. Seketika Ayah langsung ambil posisi depan kedai Syuhada Tailor, dan Karim segera meletakkan album diatas motor yang terparkir. "Yuk" ucap ayah sambil posisi gendong dan "Hap" Karim pun dengan senyumannya terbang ke plafon kedai Syuhada Tailor. Dengan bangga dia berucap "Lagi Yaaaah" Disaat yang sama Ara juga sudah menunggu giliran, mau diterbangkan ke udara. Benar saja posisi nya tak sejauh dulu lagi antara jarak tangan Ayah menangkap dan badan para bocah itu Selain mereka sudah makin bertumbuh, kondisi aya...