Langsung ke konten utama

PASUTRI AMBO JAYA - Bab IV — Ketika Pola Jahit Itu Berpindah ke Tong Sampah

 


Bab IV — Ketika Pola Jahit Itu Berpindah ke Tong Sampah

Enam bulan.

Tidak terasa, sudah enam bulan sejak papan nama Ambo Jaya — Sahabat Bangunan dan Teknik mulai berdiri di tepi Jalan Lubuk Lintah.

Enam bulan yang penuh dengan cerita.

Tentang keberanian.

Tentang rasa takut.

Tentang pelanggan pertama.

Tentang hari-hari sepi dan hari-hari ketika toko mulai ramai.

Dan kini, ada satu pemandangan sederhana di sudut rumah yang membuat Rahmi berhenti sejenak.

Sebuah tong sampah.

Di dalamnya, tergulung rapi beberapa lembar koran dan kertas.

Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah sampah biasa.

Namun bagi Rahmi, benda-benda itu menyimpan cerita yang panjang.

Pola jahit.

Pola-pola yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan Rizal.

Pola untuk membuat pakaian.

Pola untuk memotong kain.

Pola yang dulu hampir setiap hari memenuhi ruang kerja Syuhada Tailor, usaha Rizal sebelum Ambo Jaya hadir.

Rahmi memandang tong sampah itu cukup lama.

Kemudian ia tersenyum.

"Uda..."

Rizal yang sedang bersiap berangkat ke toko menoleh.

"Iya, Mi?"

Rahmi menunjuk ke arah tong sampah.

"Itu pola jahit Uda, ya?"

Rizal melihatnya.

Lalu tersenyum kecil.

"Iya."

"Benar-benar sudah tidak dipakai lagi?"

Rizal mengangguk.

"Sepertinya sudah waktunya."

Rahmi terdiam.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena ia tahu, tidak mudah meninggalkan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup.

"Syuhada Tailor dulu juga banyak membantu kita," kata Rahmi pelan.

Rizal mengangguk.

"Iya. Dari sana juga kita belajar."

Belajar melayani pelanggan.

Belajar bekerja keras.

Belajar bahwa setiap rezeki datang bersama tanggung jawab.

Rizal mengambil salah satu gulungan pola yang masih tersisa.

Ia memandangnya sebentar.

"Dulu, kertas-kertas ini hampir setiap hari aku cari."

Rahmi tersenyum.

"Kalau ada pesanan banyak, rumah kita juga penuh dengan pola."

Rizal tertawa kecil.

"Iya. Kadang sampai bingung mana pola celana, mana pola baju."

"Tapi sekarang?"

Rizal menatap ke arah jalan.

"Sekarang aku lebih sering bingung menghitung stok baut dan barang di toko."

Mereka berdua tertawa.

Namun di balik tawa itu, ada rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Ambo Jaya perlahan tumbuh.

Enam bulan mungkin bukan waktu yang lama bagi sebuah usaha.

Tetapi bagi Rahmi dan Rizal, enam bulan itu cukup untuk membawa perubahan.

Perlahan, Rizal mulai mengurangi kegiatan menjahit.

Bukan karena tidak lagi menghargai dunia jahit-menjahit.

Justru sebaliknya.

Syuhada Tailor telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Namun kini, tenaga dan waktunya lebih banyak dibutuhkan di tempat lain.

Ambo Jaya.

"Uda, jadi sekarang benar-benar fokus ke toko?" tanya Rahmi.

Rizal mengangguk.

"Iya. Sepertinya Ambo Jaya membutuhkan lebih banyak perhatian."

"Terus jahitannya?"

"Kalau permak, masih bisa."

Rahmi tersenyum.

"Jadi gunting dan mesin jahit belum benar-benar pensiun?"

Rizal tertawa.

"Belum. Cuma sekarang tidak lagi menerima jahitan seperti dulu."

"Kenapa hanya permak?"

Rizal menjawab sederhana,

"Karena aku masih ingin membantu pelanggan lama. Kalau bajunya kepanjangan, celananya robek, atau ada yang perlu diperbaiki, insyaAllah masih bisa."

Rahmi mengangguk.

"Berarti Syuhada Tailor tidak benar-benar hilang."

Rizal tersenyum.

"Tidak. Dia cuma berubah."

Kalimat itu membuat Rahmi kembali memandang pola-pola jahit di dalam tong.

Tidak semua yang berakhir berarti gagal.

Kadang, sesuatu harus selesai agar ada ruang untuk sesuatu yang baru.

Dulu, Rizal menghabiskan waktunya di depan mesin jahit.

Tangannya sibuk mengukur kain, membuat pola, memotong, lalu menjahit.

Sekarang, tangan yang sama sibuk menghitung barang, menyusun stok, melayani pelanggan, dan memikirkan perkembangan Ambo Jaya.

Pekerjaannya berubah.

Tantangannya berubah.

Tetapi satu hal tidak berubah.

Semangatnya untuk bekerja dan mencari rezeki yang baik untuk keluarga.


Sore itu, setelah pulang dari toko, Rizal duduk bersama Rahmi.

Hari itu cukup melelahkan.

Namun wajahnya terlihat bahagia.

"Capek, Uda?" tanya Rahmi.

"Capek."

"Menyesal pindah fokus?"

Rizal langsung menggeleng.

"Enggak."

"Yakin?"

Rizal tersenyum.

"Mi, setiap usaha punya masanya."

Rahmi mendengarkan.

"Syuhada Tailor membawa kita sampai ke sini. Aku tidak akan pernah melupakan itu."
"Juga pertemuan kita karena Syuhada Tailor ini" ucap Rizal sambil tersenyum

"Lalu Ambo Jaya?"

Rizal menatap istrinya.

"Ambo Jaya mungkin adalah jalan kita untuk melangkah lebih jauh."

Rahmi tersenyum.

"Jadi, kita lanjut ya, Uda?"

Rizal mengangguk.

"Kita lanjut."

"Kalau nanti ada masa sulit?"

"Kita hadapi."

"Kalau toko semakin ramai?"

"Kita bersyukur."

"Kalau kita lelah?"

Rizal tersenyum.

"Kita istirahat sebentar. Tapi jangan berhenti."

Rahmi mengangguk.

"Seperti enam bulan yang lalu?"

Rizal tertawa.

"Seperti enam bulan yang lalu."


Malam itu, pola-pola jahit yang dulu begitu berharga memang telah berada di dalam tong sampah.

Tetapi Rahmi tahu, sebenarnya tidak ada perjalanan yang benar-benar dibuang.

Setiap pola yang pernah dibuat Rizal telah membentuk satu pola lain dalam kehidupan mereka.

Pola tentang ketekunan.

Pola tentang kesabaran.

Pola tentang keberanian untuk memulai kembali.

Kini, Syuhada Tailor mungkin tidak lagi menjadi fokus utama.

Mesin jahit mungkin tidak lagi berbunyi sesering dulu.

Namun keterampilan itu tetap ada.

Untuk pelanggan yang datang membawa pakaian untuk diperbaiki.

Untuk celana yang perlu dipendekkan.

Untuk baju yang perlu disesuaikan.

Dan sementara itu, di tepi Jalan Lubuk Lintah, sebuah toko terus membuka pintunya setiap pagi.

Ambo Jaya — Sahabat Bangunan dan Teknik.

Enam bulan lalu, toko itu lahir dari sebuah keputusan besar.

Tabungan rumah impian berubah menjadi modal.

Mobil kenangan berubah menjadi barang dagangan.

Dan kini, pola jahit yang dulu memenuhi hari-hari Rizal perlahan berganti dengan daftar stok dan barang dagangan.

Rahmi tersenyum saat mengingat semua itu.

Perjalanan mereka ternyata tidak selalu lurus.

Ada jalan yang harus ditinggalkan.

Ada kebiasaan yang harus diubah.

Ada mimpi yang harus ditunda.

Namun ada satu hal yang selalu mereka pegang:

Tidak ada perjuangan yang sia-sia ketika kita berani melangkah, belajar dari perjalanan, dan saling menguatkan.

Dan bagi Rahmi dan Rizal, tong sampah berisi pola jahit itu bukanlah tanda bahwa sebuah cerita telah berakhir.

Justru sebaliknya.

Itu adalah tanda bahwa mereka sedang membuka halaman baru.

Halaman tentang sebuah toko kecil yang kini telah berusia enam bulan.

Halaman tentang keberanian untuk fokus.

Dan halaman tentang dua orang suami istri yang terus berjalan bersama...

membangun masa depan, satu langkah demi satu langkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...