Langsung ke konten utama

PASUTRI TB AMBO JAYA - BAB I Empat Bulan Pertama Ambo Jaya

 


Empat Bulan Pertama Ambo Jaya

Mentari pagi baru saja menyapa Jalan Lubuk Lintah. Deretan kendaraan mulai memenuhi jalan raya. Di sudut jalan yang strategis berdirilah sebuah toko sederhana dengan papan nama berwarna oranye dan hitam bertuliskan:

TOKO BANGUNAN AMBO JAYA
Sahabat Bangunan dan Teknik

Sudah empat bulan toko itu berdiri.

Semuanya berawal pada bulan Mei 2026.

Rahmi dan suaminya, Rizal, memutuskan membuka usaha dengan modal yang mereka kumpulkan sendiri. Tidak ada investor. Tidak ada pinjaman besar. Hanya tabungan bertahun-tahun, keberanian, dan keyakinan bahwa rezeki akan datang kepada orang yang mau berusaha.

Hari-hari pertama tidak mudah.

Ada hari ketika hanya dua atau tiga pelanggan yang datang. Ada pula saat mereka duduk berdua di depan toko sambil berharap ada kendaraan yang berhenti.

Namun mereka tidak pernah menyerah.

Setiap pagi, Rizal menyusun semen, cat, pipa, dan berbagai perlengkapan teknik agar terlihat rapi. Sementara Rahmi mencatat stok barang, melayani pelanggan dengan senyum, dan aktif mempromosikan toko melalui media sosial.

Suatu sore setelah menutup toko, Rahmi melihat laporan penjualan bulan itu.

Matanya berbinar.

"Uda..."

"Iya?" jawab Rizal sambil menghitung stok baut.

"Alhamdulillah... omzet bulan ini naik lagi."

Rizal tersenyum lebar.

"Serius?"

Rahmi mengangguk.

"Dari bulan pertama sampai sekarang terus meningkat. Pelanggan kita juga mulai banyak yang langganan."

Rizal menghela napas panjang penuh syukur.

"Alhamdulillah... ternyata usaha tidak pernah mengkhianati doa."

Rahmi tersenyum.

"Aku masih ingat waktu kita buka toko ini. Rasanya deg-degan sekali."

"Iya," jawab Rizal sambil tertawa kecil. "Bahkan aku sempat bertanya dalam hati, 'Apa benar orang akan belanja di sini?'"

Mereka berdua tertawa mengenang masa-masa awal.

Tak lama kemudian suasana kembali hening.

Rahmi memandang ke arah papan nama toko yang mulai diterangi lampu senja.

"Uda..."

"Hmm?"

"Terima kasih ya."

"Untuk apa?"

"Karena sudah berani memulai."

Rizal menoleh kepada istrinya.

"Justru aku yang harus berterima kasih."

Rahmi tampak heran.

"Kenapa?"

"Karena waktu aku ragu, kamu yang menguatkan."

Rahmi tersenyum tipis.

"Aku juga sering ragu, Da."

"Tapi kamu tidak pernah memperlihatkannya."

Rahmi tertawa pelan.

"Kalau kita sama-sama ragu, siapa yang mendorong kita maju?"

Rizal ikut tertawa.

"Iya juga."

Beberapa saat kemudian Rizal berkata dengan suara yang tenang.

"Mi... ingat ya."

"Apa?"

"Kalau suatu hari nanti toko ini semakin besar, jangan sampai kita lupa bagaimana susahnya hari pertama."

Rahmi mengangguk mantap.

"Kita akan tetap rendah hati."

"Dan tetap melayani pelanggan seperti keluarga."

Rahmi menambahkan,

"Karena mereka bukan sekadar pembeli. Mereka adalah orang-orang yang ikut menghidupkan mimpi kita."

Rizal mengangguk setuju.

"Betul."

Esok harinya, pelanggan datang silih berganti.

Ada yang membeli semen.

Ada yang mencari cat.

Ada pula yang hanya bertanya jenis pipa yang cocok untuk rumahnya.

Rahmi selalu menjelaskan dengan ramah.

Sementara Rizal sigap membantu mengangkat barang hingga ke kendaraan pelanggan.

Tak heran jika banyak pelanggan berkata,

"Kalau belanja di Ambo Jaya rasanya nyaman. Dilayani seperti keluarga."

Kalimat sederhana itu menjadi penyemangat baru bagi Rahmi dan Rizal.

Suatu malam, ketika mereka selesai menutup kasir, Rahmi kembali memperlihatkan laporan penjualan.

"Uda, lihat."

Rizal tersenyum.

"Naik lagi?"

"Iya."

"Alhamdulillah."

Rahmi berkata pelan,

"Semoga ini bukan hanya tentang bertambahnya omzet."

"Lalu tentang apa?"

Rahmi menjawab dengan mata yang berkaca-kaca.

"Tentang bertambahnya keberkahan."

Rizal menggenggam tangan istrinya.

"Aamiin."

"Selama kita jujur..."

"...melayani dengan hati..."

"...dan tidak pernah berhenti belajar..."

"...Insya Allah Allah akan membuka pintu rezeki yang lebih luas."

Malam itu mereka menatap papan nama toko yang masih menyala.

Empat bulan memang waktu yang singkat.

Namun bagi Rahmi dan Rizal, empat bulan itu telah mengajarkan bahwa sebuah usaha besar tidak selalu dimulai dari modal yang besar.

Kadang, ia lahir dari sepasang suami istri yang saling percaya, saling menguatkan, dan tidak pernah lelah berjalan berdampingan.

Dan di tepi Jalan Lubuk Lintah, Toko Bangunan Ambo Jaya terus berdiri, bukan hanya sebagai tempat menjual bahan bangunan dan perlengkapan teknik, tetapi juga sebagai saksi bahwa mimpi yang dibangun dengan kerja keras, kejujuran, dan doa akan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...