Langsung ke konten utama

PASUTRI TB AMBO JAYA - Bab II — Ketika Rumah Impian Berubah Menjadi Ambo Jaya

 


Bab II — Ketika Rumah Impian Berubah Menjadi Ambo Jaya

Sebelum ada papan nama Toko Bangunan Ambo Jaya di tepi Jalan Lubuk Lintah, sebenarnya Rahmi dan Rizal punya mimpi yang lain.

Mimpi yang sederhana.

Sebuah rumah.

Tidak harus besar. Tidak harus mewah. Cukup sebuah rumah yang bisa mereka sebut sebagai rumah sendiri. Tempat pulang setelah lelah bekerja, tempat anak-anak tumbuh, dan tempat mereka menua bersama.

Bertahun-tahun mereka menyisihkan uang sedikit demi sedikit.

Ada uang yang sengaja tidak disentuh.

Ada rezeki yang langsung disimpan.

Setiap kali tabungan bertambah, Rahmi selalu berkata,

"Bang, kalau sudah cukup, kita bangun rumah ya."

Rizal biasanya hanya tersenyum.

"Iya. Pelan-pelan."

Mereka tahu, membangun rumah membutuhkan waktu.

Maka mereka tidak terburu-buru.

Sampai suatu hari, kehidupan membawa mereka pada sebuah pertanyaan besar:

Bagaimana kalau tabungan rumah itu digunakan untuk sesuatu yang bisa menghasilkan?

Awalnya tidak mudah.

Rahmi dan Rizal sama-sama terdiam ketika pembicaraan itu muncul.

Uang yang selama ini mereka kumpulkan dengan susah payah adalah uang untuk rumah impian.

Bukan untuk usaha.

Bukan untuk toko.

Apalagi untuk sebuah mimpi yang belum jelas akan berhasil atau tidak.

Suatu malam, Rahmi duduk bersama Rizal membicarakan rencana itu.

"Uda..."

"Iya, Mi?"

"Kalau uang rumah kita pakai untuk usaha, rumahnya bagaimana?"

Rizal terdiam cukup lama.

"Itu yang aku pikirkan juga."

"Kita sudah lama nabung."

"Iya."

Rahmi menunduk.

"Aku sebenarnya sayang sama tabungan itu."

Rizal tersenyum kecil.

"Aku juga."

"Tapi..."

Rahmi menarik napas.

"Kalau uang itu kita diamkan terus, mungkin rumah kita memang bisa berdiri. Tapi kalau kita coba putar menjadi usaha, siapa tahu nanti usaha ini yang membangunkan rumah untuk kita."

Rizal memandang istrinya.

Kalimat itu sederhana.

Namun terdengar seperti sebuah keberanian.

"Jadi kamu yakin?"

Rahmi tersenyum.

"Bukan yakin usaha ini pasti berhasil."

"Lalu?"

"Aku yakin kita harus mencoba."

Rizal mengangguk perlahan.

"Kalau begitu, kita coba bersama."


Namun ternyata modal yang mereka butuhkan tidak hanya berasal dari tabungan.

Ada satu benda yang memiliki cerita tersendiri dalam perjalanan rumah tangga mereka.

Sebuah mobil sedan Corolla All New tahun 1996.

Mobil itu dibeli di awal pernikahan.

Bukan mobil mewah.

Bukan pula kendaraan yang mereka beli untuk bergaya.

Mobil itu adalah bagian dari perjalanan awal mereka sebagai pasangan suami istri.

Di dalam mobil itulah ada banyak cerita.

Perjalanan pertama setelah menikah.

Pergi bekerja.

Membawa barang.

Mengunjungi keluarga.

Bahkan mungkin ada pertengkaran kecil dan tawa yang tidak pernah tercatat oleh siapa pun.

Mobil itu menjadi saksi perjalanan mereka.

Tetapi ketika keputusan untuk membuka usaha semakin kuat, mereka kembali dihadapkan pada pilihan.

Rahmi memandang mobil itu.

"Uda..."

"Hmm?"

"Mobil ini juga?"

Rizal diam.

Mereka sama-sama tahu maksud pertanyaan itu.

Jika ingin benar-benar memulai usaha tanpa berutang, mobil itu bisa menjadi tambahan modal.

Rizal mengusap wajahnya.

"Berat sebenarnya."

Rahmi mengangguk.

"Aku tahu."

"Ini mobil pertama kita."

"Iya."

Mereka terdiam.

Ada kenangan yang terasa seperti ikut dijual bersama mobil itu.

Namun akhirnya Rizal berkata,

"Barang bisa dicari lagi."

Rahmi menatap suaminya.

"Kenangan juga tetap ada."

Rizal tersenyum.

"Yang penting perjuangan kita jangan hilang."

Akhirnya mobil sedan yang menemani awal perjalanan rumah tangga mereka pun dilepaskan.

Bukan untuk kemewahan.

Bukan untuk membeli sesuatu yang konsumtif.

Tetapi untuk menjadi bagian dari modal usaha yang mereka harapkan bisa membawa kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.


Di tengah proses mengumpulkan modal, telepon dan kunjungan dari pihak bank pun mulai berdatangan.

Satu tim datang.

Kemudian tim lainnya.

Mereka menawarkan berbagai macam pinjaman usaha.

"Bu, kalau membutuhkan tambahan modal, kami bisa membantu."

Rahmi hanya tersenyum.

"Terima kasih, Pak. Kami pertimbangkan dulu."

Tim berikutnya datang dengan penawaran yang berbeda.

"Usahanya bisa dikembangkan lebih besar kalau ada tambahan modal."

Rizal mendengarkan dengan sopan.

Tetapi setelah mereka pergi, Rahmi dan Rizal kembali berdiskusi.

"Uda, bagaimana?"

Rizal menggeleng pelan.

"Aku belum terbiasa punya utang."

Rahmi mengangguk.

"Aku juga."

"Bukan berarti pinjaman itu buruk."

"Iya."

"Hanya saja aku lebih nyaman memulai dari kemampuan kita sendiri."

Rahmi tersenyum.

"Kalau memang rezekinya belum sebesar itu, biarlah kita tumbuh pelan-pelan."

Rizal mengangguk.

"Yang penting hati kita tenang."

Mereka pun memilih untuk tidak mengambil pinjaman.

Bukan karena tidak punya kesempatan.

Justru kesempatan itu datang berkali-kali.

Tetapi mereka memilih jalan yang menurut mereka paling sesuai dengan kemampuan dan kenyamanan mereka:

memulai dengan modal sendiri.


Mei 2026 akhirnya tiba.

Tabungan yang tadinya disiapkan untuk membangun rumah berubah menjadi barang-barang dagangan.

Mobil yang dulu menjadi kendaraan keluarga berubah menjadi tambahan modal.

Sedikit demi sedikit, rak mulai terisi.

Barang-barang teknik mulai berdatangan.

Perlengkapan bangunan mulai tersusun.

Sebuah tempat sederhana di tepi Jalan Lubuk Lintah mulai berubah.

Tidak megah.

Tidak besar.

Tetapi ada harapan yang sangat besar di dalamnya.

Rahmi berdiri di depan toko.

Rizal berada di sampingnya.

Papan nama itu akhirnya terpasang.

TOKO BANGUNAN AMBO JAYA
Sahabat Bangunan dan Teknik

Rahmi memandang papan nama tersebut cukup lama.

"Uda..."

"Iya?"

"Ini dulu uang rumah kita."

Rizal tersenyum.

"Iya."

"Dan ini juga mobil pertama kita."

"Iya."

Rahmi tersenyum haru.

"Berarti rumah impian kita sekarang berubah bentuk."

Rizal menoleh.

"Berubah bentuk?"

Rahmi mengangguk.

"Dulu kita pikir rumah itu harus dibangun dari batu dan semen."

"Terus?"

"Ternyata sebelum membangun rumah, kita harus membangun jalan menuju rumah itu dulu."

Rizal tersenyum.

"Dan jalan itu namanya Ambo Jaya."

Mereka berdua tertawa kecil.

Hari itu mereka sadar, mereka memang belum memiliki rumah impian yang selama ini mereka bayangkan.

Tetapi mereka telah membangun sesuatu yang mungkin suatu hari nanti akan mengantarkan mereka ke sana.

Sebuah usaha.

Sebuah harapan.

Sebuah keberanian.

Dan yang paling penting...

sebuah perjuangan yang mereka bangun bersama.

Kini, empat bulan telah berlalu.

Toko kecil di tepi Jalan Lubuk Lintah itu mulai dikenal.

Pelanggan mulai datang.

Omzet perlahan meningkat.

Barang semakin bertambah.

Dan mimpi yang dulu terasa jauh, perlahan mulai terlihat jalannya.

Rahmi dan Rizal tahu, perjalanan mereka masih panjang.

Rumah impian itu belum selesai.

Tetapi mereka tidak lagi terburu-buru.

Karena kini mereka percaya:

Kadang Allah meminta kita menunda satu impian, bukan untuk menghilangkannya, tetapi untuk mengajarkan kita membangun jalan menuju impian itu dengan tangan sendiri.

Dan Ambo Jaya adalah awal dari jalan tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...