Langsung ke konten utama

DDH (Developmental Dysplasia of the Hip) Membawa Kita Sejauh Ini (PART 1)

Bismillahirrahmanirrahim...👀

Assalamu'alaykum semuanya..

Ketemu lagi kita, sudah lama tidak Posting disini.

Tulisan kali ini special aku buat untuk para pejuang DDH, Perkenalkan aku juga pejuang DDH, bawaan lahir dan sekarang udah usia 34th tepat di Sptember 2024 kemaren.

Kenapa aku mau bicara tentang DDH ini, karena aku sendiri merasakan sulitnya referensi untuk info DDH ini, dulu aku waktu masih SMA baru tau tentang DDH ini, karena awalnya yang aku tau hanya memiliki kekurangan, yaitu kaki yg tidak seimbang. Kaki kanan lebih pendek dari kaki kiri, sehingga untuk berjalan tidak seimbang, alias pincang

So far, aku tidak mempermasalahkan kaki ini, karna jujur tidak ada keluhan yang ku rasakan, sejak kecil hingga usia 33 th ini. Aku baru peduli tentang DDH ini, karena waktu usia SMP aku menemani mama kontrol buka jahit di RS Siti Rahmah bersama dokter Hermansyah, waktu itu beliau melihat aku berlari dan berjalan dilobi rumah sakit menuju ruangannya. Dokter memanggilku dan menyarankanku untuk Ronsen, dan beliau memberikan secarik kertas menuliskan nama penyakit yang aku derita. Tulisan khas dokterpun aku terima disana jelas tertulis DDH (Developmental Dysplasia of the Hip).

"Coba nanti googling aja ya, ada tentang itu" ucap Dokter Hermansyah padaku.

"Baik Dokter" ucapku sambil menerima kertas kecil itu.

Akhirnya kehidupan pun berjalan seperti biasa, aku mencari tentang DDH itu di internet, tapi kebanyakan dalam bahasa asing, tidak ada dalam bahasa kita hehe..

Waktu itu entah kenapa aku belum jd ronsen, mungkin karena aku masih nyaman dengan keadaan, tidak ada keluhan juga. Hingga akhirnya aku googling lagi di tahun 2017, di laman Dokter Dr. Hermansyah SpOT (Spesialis Orthopedi dan Traumatologi) -- https://drhermansyahspot.wordpress.com/2016/12/13/operasi-kasus-developmental-dysplasia-of-the-hip-di-rsud-lubuk-basung/#comments

(teman-teman bisa baca ya, terkait DDH disini) Jadi aku coment seperti ini di postingan dokter.

Alhamdulillah di balas dong.



Bahagia karena akhirnya terjawab sudah. Akhirnya aku di Akhir Des 2017 pergi berobat ke RS, setelah dapat rujukan dari faskes pertama dan rujukan juga dari RS, akhirnya aku dapat rujukan ke RS M Djamil Padang. Disitu aku mau ketemu dengan Dokter Hermansyah, tapi ternyata kalau kasus DDH nya dewasa di tangani oleh Dokter dr Rizki Rahmadian, SpOT(K), M. Kes. Setelah ronsen dll alhamdulillah ketemu beliau, tapi waktu itu aku berobat memang karena ingin tau, sebenarnya keluhan tidak ada. Dan saat itu setelah dokter membaca hasilnya, beliau tidak menyarankan operasi, mungkin karena termasuk operasi besar.

Waktupun berlalu..

Mau tau lanjutan ceritanya ?

Silahkan ikuti episode selanjutnya. hehe..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...