Langsung ke konten utama

Strategi Memasuki Dunia Kerja

Dunia kampus yang sesat lagi akan ditinggalkan. Menuntut para mahasiswa dan mahasiswi yang akan meninggalkan kampus untuk segera mengatur strategi menghadapi masa depannya. Banyak pilihan yang akan diambil, namun saat telah memasuki dunia kerja akan ada berbagai macam kenyataan yang akan dihadapi. Kadang kenyataan itu tidak sesuai dengan apa yang kita fikirkan. Dalam penantian untuk diwisuda, ada juga beberapa mahasiswa yang mencoba untuk melamar pekerjaan. Mencoba peruntungan lewat lamaran-lamaran yang dikirimkan.
Para ex mahasiswa dan mahasiswi yang bertitle pencari kerja berbondong-bondong mencari informasi lowongan pekerjaan, baik itu di media massa, internet sampai ke kantor pos. Kadang pekerjaan yang diterima tidak bersesuaian dengan bidang ahli yang kita miliki. Alih-alih ingin mencari pengalaman, yang ada malah timbul perasaan tertekan dengan pekerjaan yang diterima dan selalu menghantui karna tidak sesuai dengan keinginan kita. Jadi saat kita mencoba terjun kedunia pekerjaan, sebaiknya kita berusaha untuk memilih yang sesuai, dan usahakan bidang pekerjaan yang akan kita terima itu berkesesuaian dengan potensi, minat dan hobi kita agar natinya pekerjaan yang ada dapat kita jalani dengan sepenuh hati.

Banyak rintangan yang akan dihadapi dalam dunia kerja nantinya, karna ada perbedaan yang nyata  antara dunia sebelum dan sesudah bekerja, dimana dunia sebelum bekerja tanggung jawab finansial pada orangtua, sangsi disiplin lebih toleran, kebebasan bertutur dan bersikap, pergaulan homogen, sukses bergantung pada diri sendiri, serta bertindak atas nama pribadi. Namun dunia sesudah bekerja akan memiliki kebalikan dari dunia yang dijalani sebelum bekerja, dimana pada saat itu taggung jawab finansial kepada diri sendiri, sangsi disiplin lebih keras, menjaga sikap dan tutur kata, pergaulan yang homogen, dan kesuksesan bergantung pada diri sendiri dan orang lain, serta saat bertindakpun atas nama perusahaan. Jadi kita harus dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru yakni lingkungan kerja.
  

Kita lihat bagi lulusan yang akan mendapatkan gelar Sarjana Komputer akan memiliki banyak kesempatan untuk berkarir, baik itu membuka usaha sendiri ataupun mengikuti perusahaan. Tapi tidak sedikit juga yang mencoba peruntungan ke bidang kerja yang lainnya. Seperti mencoba melamar di Bank, banyak diantara teman-teman yang merasa tertarik memasuki dunia perbankkan tersebut. Namun sesungguhnya segala pekerjaan itu baik, asalkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan bahagia. Sehingga akan tercipta kerja ikhlas, kerja cerdas dan kerja tuntas.

Padang, Desember 2013
Menuju Graduation 2014, tulisan ini dibuat untuk meraih Mahasiswi Berprestasi STMIK Indonesia Padang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...