|
B |
enar saja semua
ini tak akan terjadi jika tak ada timbal balik dari semua kejadian itu. Siang
itu matahari bersinar cukup terik, di saat yang sama aku sedang asyik-asyiknya
dengan rekan kerja ku fitting baju serangam kantor yang baru, yeay..
Alhamdulillah
sama seperti tahun sebelumnya kami mendapatkan masing-masing 3 stel seragam
kantor, asiik deh. Kalau dihitung-hitung udah banyak seragam kantor yg menghuni
lemari ku dirumah, bayangin aja aku yang udah hampir 4 tahun kerja disini,
selalu dijatahin 3 sampai 4 stel seragam, dikalikan aja 4 tahun, jadinya ada
sekitar 12 pasang seragam yang nongkrong di lemari. Eh kok ngomongin seragam
yak.. hehe..
Ini memang
berawal dari seragam kerja, di siang itu setelah semua dirasa cocok, maksudnya
seragamnya, dan hanya perlu sedikit renovasi (bagunan kali), kami berlanjut ke
aktivitas kerja biasanya, seragam yang mau diperbaiki sudah diserahkan kembali
ke penjahitnya.
Namun, celotehan
kecil dari seorang kakak dikantor ini membuyarkan lamunanku yang sedang asyik
saat memeriksa faktur pajak yang masuk,
kakak tersebut
berucap “Akak tau, siapo yang disukai
samo Uda tadi”. (“Kakak tahu, siapa yang disukai oleh Abang tadi “)
Pandangan kita
bersama tertuju ke satu titik, ku pasang teliga biar info ini dapat ku cerna
dengan baik.
“Akak tau
sedikit tentang dia, pendidikannya, statusnya, siapa yang mau tau, sini tanya
ke kakak” ucap kakak dengan gaya khas nya.
Kakak lanjutin
ceritanya, masih dihadapan rekan kerja lainnya, “Uda tadi suka sama Febri,
katanya Febri pakaiannya rapi”. Yang lain bengong dan aku hanya mematung. Aku
disukai seseorang, alasannya klasik bgt lagi, gegara pakaian yang rapi. Ya, aku
sedang mencoba menjalankan perintah dari Sang Pencipta ku, itu saja. Aku
mengenakan pakaian rapi ini, agar aku mudah dikenal serta cara syukurku
pada-Nya.
Suasana terdiam sebentar, yang lain pada senyum-senyum ke arah ku, dan aku
hanya tertunduk sedikit malu, membalas senyuman itupun aku agak ragu. Benar
saja, belakangan ini kami para gadis menerka siapa yang dikagumi oleh lelaki
itu, si Uda pernah bilang ke kakak yang berurusan masalah seragam itu, yaap..
Uda penjahit seragam, dia lah yang sedang kita bicarakan, jadi si Uda pernah
bilang melaui phone ke kakak kalau dia ada suka sama salah seorang karyawati di
kantor ku ini, tapi si Uda tak mau cerita siapa orangnya. Dia bilang “biarlah
jadi rahasia dahulu”.
Akhirnya rahasia
itupun terbongkar hari ini, ya awal tahun 2018, walau bukan hal yang spesial
bagi orang, tapi ini merupakan hal yang tak terduga bagiku. Mengawali tahun ini
seseorang mengatakan suka, eh tapi tunggu dulu, apakah suka nya hanya sekedar
kagum?? Mari kita baca lanjutan ceritanya, tak perlu penasaran dahulu, karna
ini akan ku ceritakan semuanya.
Kalau memang
sekedar kagum, kenapa saat ia menanyakan masalah seragam itu, dia memanggil ku,
kenapa bukan yang lain, ini juga jadi pertanyaan bagi rekan kerja ku yang lain,
hal lain yang terjadi, aku falshback lagi pertemuan saat fitting seragam itu
dengannya, ia mengungkapkan bahwa permintaan ku untuk menyatukan poring rok
akan dibuatkan spesial untuk ku, selain itu ia tahu namaku, aku iseng bertanya
ke si Uda “ Kok tau Uda namo Febri?” si Uda Jawab “Ya tau laah”, sambil
cengegesan.
Aku juga tahu
diantara kesibukan ku saat ia ke kantor, tatapan matanya itu memang berbeda ke
arah ku. Hal yang sama juga diungkapkan oleh kakak yang melihat gelagatnya.
Tapi ada satu hal yang membuatku respek, ia mengunggapkan ketertarikannya dan
suka nya bukan kepada ku langsung, tapi melalui kakak dikantor ku.
Satu lagi hal
yang menjadikannya nilai plus bagiku adalah, saat azan ashar berkumandang,
padahal saat itu si Uda masih mengukur celana salah seorang teman kerja ku, dia
izin untuk melaksanankan sholat ashar dahulu.
Pernah beberapa
bulan yang lalu aku bercengkrama dengan teman satu meja ku, bilang gini “ Dek,
akak belum pernah lihat laki-laki kalau berkunjung kekantor, waktu sholat
masuk, dia izin untuk melaksananakan sholat. Jika ada yang gitu, emejing banget
lah ya dek”.
Terfikirlah
ucapan itu saat ini oleh ku, ucapan yang juga merupakan sebuah impian hehe..
nah sekarang ucapan itu terjawab dengan hadirnya si Uda dan sholat tepat waktu,
ini nilai plus juga, yang mana bisa ditarik kesimpulan, beliau menjaga
sholatnya, walau tidak berjamaah di masjid. ^^
Oya, aku belum
melanjutkan tentang pembicaraan si kakak dan si Uda, jadi Uda ini memulai
obrolan saat kami mencoba seragam itu di lantai 3 kantor. Ternyata beliau sudah
asyik saja berbincang. Dari info yang aku dapatkan dari si kakak, Kakak ini sengaja
datangi meja ku untuk face to face bicarakan tentang si Uda ke aku, ini setelah
uda pergi meninggalkan kantor yaa. Jadi kakak bilang kalau dia :
1.
Duda beranak 1
2.
Istrinya meninggal
karna Lupus
3.
Dia suka sama aku karna
pakaiannya rapi
4.
Alasannya bisa jadi
untuk cari istri
Cuma segitu info
dari kakak tentang si Uda.
Ohya, beberapa
hari setelah pertemuan itu aku merasakan sesuatu, entah itu bagus atau hanya
keterlenaanku saja. Seminggu yg lalu, dia datang kembali untuk menyerahkan
seragam yang telah diperbaiki, namaun pagi itu setibanya aku di pintu kantor,
aku dibilang oleh kakak dikantor ini kalau si Uda semalam menanyakan no hp ku,
katanya mau tanyakan tentang seragamku yang dia perbaiki, “Kakak baru baca
pesan dari nya, dan belum sempat menyerahkan no hp Febri ke si Uda” ucap lugas
kakak padaku.
Akhirnya aku cuma
senyum doang, dan yang lain mulai becandain aku, aku tau.. bisa jadi itu salah
satu modusnya untuk mendapatkan no hp ku, karna setelah ia menyerahkan semua
seragam yang telah diperbaiki, dia tak akan dtg lagi ke kantor, karna ng ada
urusan juga, begitu juga dengan setahun yang lalu, karna kita sudah 2 tahun
berjalan langganan jahit seragam dengan si Uda.
Aku pikir, jika
aku tak menghubungi si Uda, bisa jadi seragam yang aku perbaiki salah, aku
pinjam saja hp si kakak untuk mengirim pesan ke si uda, menanyakan ada apa
dengan bajuku, dan dia hanya bilang, “apakah bagian badannya juga ada di
perbaiki?” Padahal 2 hari sebelum itu, saat ia kekantor, semua sudah tercatat
rapi di buku nya. Hmmm.. semakin bersemangat rekan kerjaku menyampaikan
leluconnya. ^^
Hari itu
berlangsung lama bagiku, entah kenapa kehadirannya sangat ku tunggu, benar saja
mungkin zina mata dan hati telah mengerogoti tubuh ku, seperti remaja yang baru
kasmaran, aku malu-malu jika mengingatnya, dadaku terasa sesak. Ya Rabb.. jika
dia bukan untukku, jauhkan aku dari perasaan itu.
Sekitar setengah
5 sore, dia datang kembali.. membawa semua pesanan seragam yang telah dia
perbaiki. Aku.. hanya mencoba berdamai dengan perasaan ini, entah mengapa aku
tak tahu.. huuft..
Dia langsung
saja menuju ke kakak bendahara, menyerahkan seragam itu, sayup sayup terdengar,
ia berucap “Kak, makasih ya.. besok-besok kalau saya ganggu, boleh yoo”. Aku
jangankan menatapnya, untuk melihatnya sebentar saja aku tak kuasa.. eleeh
(lebay) hehe..
Ku coba
tundukkan pandangan, pura-pura sibuk dengan kerjaan.
Akhirnya ia pamit,
disudut mata ku bisa lihat ekspresinya. Belum saja si Uda sampai di luar
kantor, teman2 pada bersorak.. “Kak Febri, tadi Uda tu ditatapnya kakak” ucap
adek yang mana ia ternyata satu kampung dengan mantan istri si Uda itu, adek
ini menguatkan perasaan ku juga, karna ia juga berucup, kalau kampung istri si
Uda merupakan kampung yang mana penduduknya menjunjung tinggi nilai keislaman.
Adek ini bilang
kalau, masyarakat perempuan dikampung itu juga menjaga agar berpakaian rapi dan
berjilbab lebar “ sama seperti akak”, itu ucap nya disatu kali. Setelah ku
tanyakan nama kampung itu Taluak Dalam Alahan Panjang Solok.
Aku, si kepo nan
baperan langsung mengetik keybord di pc kantor ku, “taluak dalam” ku temukan
disana beberapa hasil searching mbah google, kalau di taluak dalam itu sudah
ada Islamic center yang di resmikan oleh Gub Sumbar Bapak Irwan Prayitno th
2016 lalu. Juga ada rumah tahfidzh..
Diluar kendali
ku, aku tak tahu apakah ini petunjuk dari Allah atau hanya buah dari kebaperan
ku saja, entah mengapa status dan pendidikan bukan hal mutlak bagiku, alasannya
itu yang membuat aku respek, serta gentle nya untuk mengunggapkan bukan
kepadaku, itu merupakan hal berani juga. Entah mengapa ini menjadi secercah
cahaya bagi ku, ditengah kerinduan akan sosok yang ku nantikan akan membimbing
ke Surga-Nya, sosok yang kelak menjadi ayah bagi anakku, sosok yang menjadi
anak laki-laki bagi kedua oarang tua ku. Harapan itu ada padanya.
Ditambah lagi,
saat kejadian hari ini ku utarakan kepada kedua orang tua ku, mereka
Alhamdulillah welcome dengan semua situasi ini, tak ada keraguan yang terucap
dari mereka berdua, yang ada malah aku menyampakain keraguan itu, dan walhasil
semua keraguan ku itu mereka coba menafsirkan dengan sangat bijak dan berjiwa
besar.
Aku tau papa
sudah melihatnya, ucapan papa dan mama mengokohkan langkahku, tapi lagi-lagi
aku tak bisa berbuat banyak, bermimpi untuk hal itu pun, susah aku
realisasikan, kadang aku berfikir, apakah aku sudah siap untuk menjdi ibu bagi
anak nya? Aku tak tau berada dijalan yang mana, benar atau salahkah yang aku
ambil saat ini.
Namun aku jujur
pada diriku, ditengah kerinduan itu, jika memang ia Engkau pilih untuk ku, maka
dengan mudah Engkau juga mendekatkannya padaku. Tapi jika ini hanya latihan
perasaan saja dari mu, aku berharap rasa ini segera sirna dari hati ku.
Aku harus yakini, tulang rusuk itu tak akan tertukar, sama seperti filosofi
sandal yang aku buat di status whatsaap ku beberapa hari yang lalu.
Saat ini, tugas
ku menjalani segala skenario dari Nya, dalam koridor yang di syariatkan
27 April 2018
Akhirnya Allah
menjawab semua teka teki selama ini, pagi ini si Uda menjabat erat tangan Papa,
menjawab tegas namun elegan janji suci itu. Aku yang saat itu menyaksikan dari
belakang, mengucap syukur yang tak terhingga. Allah punya cara yang unik dan
menarik untuk mempertemukan dua hati. Apapun itu, semua terasa mudah kami
lewati.
Sejak si Uda
datang ke kantor terakhir kali itu, kita bertemu kembali di salah satu cafe
untuk ta’aruf bersama kakak perempuan dan Ibuku, tanggal itu tepat 27 Februari
2018, sesaat setelah itu Uda bersama Ibunda tercinta dan keluarga silaturahim
sekaligus khitbah ke rumah tanggal 10 Maret 2018.
Perjalanan kita
yang begitu singkat, terasa begitu ringan. Ternyata setelah akad nikah itu
banyak cerita yang Uda sampaikan, rasa yang dipendam sejak 2016, akhirnya Uda
beranikan untuk menyampaikan di tahun 2018.
Ternyata
ada sedikit cerita kita saat masa masa penantian itu, Ibuku serta kakak
perempuan tercantikku, bersama balitanya Humayra, diam diam mendatangi kedai
jahit si Uda, niat hati ingin melihat calon menantu beliau, saat itu masih masa
adanya Uber, salah satu aplikasi mobil online, dari tempat kerja, ku tolong
untuk memesan mobil online lewat aplikasi Uber, tujuannya ke daerah Lubuk
Lintah, tempat kedai jahit si Uda yakni Syuhada Tailor.
Sesampai disana ibu bersama kakakku sampai sekitar pukul 10.00 wib, waktu itu
aku dapat cerita kalau kedai jahitnya si Uda belum open, ternyata beliau saat
itu sedang duha di masjid dekat kedai jahit tersebut. Kedatangan ibu dan
kakakku ternyata dengan pura-pura jadi pelanggan jahit
Salma gadis
kecil yang saat itu pertama berjumpa di masjid Ummi Solok, dengan gaun merahnya,
masih tersipu malu akan kehadiranku. Ku gandeng tangannya kami berjalan
bersama, dia terlihat malu-malu.
Insya Allah
perjalanan cinta kita akan senantiasa Allah jaga, amanah yang Allah titipkan
seorang gadis kecil yang harus kita sayangi. Bahagia tiap bertemu dengan gadis
sholeha nan periang, saat itu Uda berkata “ini Bunda baru untuk Salma”
Oktober
2020
Perjalanan panjang telah kita lewati, lika liku
kehidupan senantiasa hadir membersamai. Alhamdulillah bahagia, suka, duka,
cinta serta tawa juga tangisan menjadi rangkaian indah perjalanan ini. Tiap
helaan nafas selalu dibarengi dengan syukur yang tak terkira. April 2020 lalu
tepat sudah 2 tahun pernikahan kita, tak ada perayaan special untuk anniversary
itu, karna bagi kami setiap hari adalah cinta.
Dua tahun berlalu bukanlah hari berganti menjadi bulan
yang terasa singkat, karna kami sungguh menantikan amanah itu, yaa.. amanah
dari pencipta dan pemilik semesta itu. Tiap kali berpapasan atau acara kumpul
keluarga, selalu ada pernyataan kepedulian bagi kami. Berbagi tips dan saran
juga berdatangan kepada kami. Kami mensyukuri semuanya, karna banyak yang care
kepada kami. Alhamdulillah
Dua tahun enam bulan berlalu, sebelum memasuki 2 tahun
pernikahaan ini, disetiap sujud kami, selalu berharap dan berdoa yang terbaik
untuk rumah tangga kami. Kami tau, bahwa taka da yang tak mungkin bagi Sang
Pencipta. Berbagai doa telah terpanjat disetiap sujud kami, pagi, siang malam,
selalu kami panjatkan harapan itu.
Hari itu, tamu bulananku tidak datang, iya baru telat
1 hari. Dini hari itu iseng ku ambil testpack yang sudah kusiapkan sebanyak 25
test jauh jauh hari, tiap bulan selalu kugunakan, namun Allah belum
berkehendak. Dini hari jam 3 itu kucoba lagi untuk cek, was was dihati makin
tidak karuan. Masyaallah, garis 2 samar aku dapati di Oktober itu. Ku ulangi,
lagi dan lagi, garis dua itu makin jelas, air mata menetes dipipi tak
terbendung kurasakan. Ku dapati si Uda masih dalam tidur lelapnya, kupandangi
lagi 2 garis itu, bergantian ku pandangi suami tercintaku, air mata keharuan
bahagia makin tak bisa kutahan.
Lalu segera ku elus bahu suamiku yang sedang terlelap,
mencoba untuk membagunkan tidur panjangnya. Si Uda mulai mengerinyitkan matanya
dalam tidur, sedikit memiringkan badannya, lalu mulai membuka mata. Beliau agak
terkejut melihat tangisanku, tanpa bicara ku serahkan hasil garis 2 itu. Dalam diam
mata si uda sudah berkaca-kaca juga, kami berdua saling berpelukan erat dini
hari itu. Bahagia bercampur terharu dini hari itu kami rasakan, penantian itu
saat ini terjawab sudah. Allah menjawab doa-doa kami dalam sujud panjang itu.
Allah menyayangi kami.
Hari bahagia kami jalani di episode kehidupan ini, 9
bulan kedepan aku akan menjadi ibu bagi adiknya kak salma, gadis kecilku ini
bahagia menerima kabar kalau akan punya adik, sayangnya saat ini kami belum
bisa membersamai kak salma, karna kak Salma lebih memilih tinggal bersama
neneknya di kampung Taluak Dalam Alahan Panjang Danau Atas. Kami tidak memaksa
juga, karna itu adalah pilihan bagi Kak Salma, mana yang terbaik untuk
kehidupannya, namun kami berharap nanti, saat Kak Salma sudah dewasa, bisa
memilih kehidupannya sendiri, membersamai kami Ayah bunda serta adik-adiknya.
Kadang ada haru bercampur sedih saat kami pulang
kampung bertemu kak Salma, kebahagiannya bertemu ayah dan bunda yang tak bisa
tergambarkan, betapa rindunya. Sekarang kami sudah mulai bercerita kepada kak
salma tentang adek nya yang masih di perut bunda, elusan tangan kecil kak
salma, membuat bahagia.
Saat liburan semester lalu, kak salma liburan 1 minggu
ke Padang, kami Ayah, Bunda kak salma dan calon dedek bayi, pergi bermain
kepantai, saat itu tak terasa kehamilanku sudah menginjak 8 bulan, menunggu 1
bulan lagi kelahiran bayi kami.
Juni
2021
Jadwal chekup kehamilanku sudah
beberapa kali kujalani, dari awal kehamilan Alhamdulillah tidak ada komplikasi
apapun terhadap kehamilan ini, namun saat USG terakhir, posisi dede janin masih
melintang, nyaman kali ya dek posisi begitu, berbagai cara juga sudah aku
lakukan, namun akhirnya keputusan cesar menjadi pilihan, Alhamdulillah 5 juni
2021 pukul 10.00 WIB baby boys lahir, sungguh nikmat yang luar biasa, karna
sejak awal kehamilah, hingga akhir ini kami belum bisa mengetahui jenis kelamin
adek kak Salma ini, karna pas USG sering sembunyikan kelaminnya hehe
November
2021
Alhamdulillah, saat ini baby boys
kami sudah menuju umur 6 bulan, belakangan ini aku sebagai bundanya merasakan
hal yang terulang kembali saat hamil baby boys ku ini, ohya perkenalkan, nama
baby boys kami adalah Abdul Kariim. Di usianya yang menginjak 6 bulan ini, rasa
rasanya ada sesuatu terjadi pada perubahan badanku sebagai ibu, ASIku pun 2
bulan ini tidak seperti biasa, serta nafsu makanku pun tak seperti di awal awal
masa menjadi Ibu bagi Abdul Kariim. Ya Rabb, sepertinya ada sesuatu yang
terjadi pada tubuh ku ini. Masyaallah kecurigaan itu terjawab sudah, sepulang
kerja ku singgah dulu di apotek, membeli sesuatu, esok paginya ku lakukuan test
pada urine pertama pagi itu, Alhamdulillah langsung saja garis dua jelas
kutemukan pada testpack itu. Kupandangi bocah laki-laki kecil yang masih
tertidur pulas, sambil tersenyum ku elus kepalanya sambil berucap “Selamat jadi
Uda ya Nak “ tak terasa air mata haru menetes dipipi.
Kutatap
wajah sang ayah dari putra kecilku, wajah yang bekerja keras untuk kami, wajah
lelah saat bekerja seharian, ku pandangi lebih dalam, sambil mengusap air mata
haru yg erus menetes.
Allah memang maha pengasih, penantian 2 th 6 bulan itu berbuah manis, setelah
kehadiran putra kecil yang saat ini usia 6 bulan, Allah beri amanah kembali
dengan janin yang berada di perut ini.
“Uda..
o Uda” ucapku sambil berbisik di telinga sang suami.
Sambil
mengerjapkan mata suami bertanya “Ada apa? Apa yang perlu dibantu? Kenapa
menangis?”
“ini…”
sodorku sambil menyerahkan testpack itu.
Dengan
senyuman suami langsung memelukku dan berucap Alhamdulillah.
“Allah
sangat menyayangi kita ya Sayang” ucapnya kemudian
Komentar
Posting Komentar