Langsung ke konten utama

GEDUBRAK GEDUBRUK

 Bismillah, sepagi ini udah gedubrak gedubruk

Karim dengan segala drama lambatnya, udah kayak kaset yg di pause lanjut pause lanjut.

Bunda udah mondar mandir kayak setrikaan, sedangkan Ara masih di mimpinyaa.

Ayah memilih lebih awal buka Toko Bangunan Ambo Jaya, segera bangkit setelah menghabiskan secangkir kopi, pepaya dan nasi plus dadar.

Cukuplah untuk menambah stamina pagi.


"Karim, mana sepatunya sebelah lagi? Ucap bunda sambil memasang hijab hijau, seragam hari Senin

"Ndak tau Karim nda" ucapnya santai.

"Carilah nak, mungkin dibawah mesin jahit itu" sahut Bunda sambil pakai bros bunga silver itu.

Karim yang pagi ini masih loading, cuma diam sambil pakai sepatu yang sebelah.

Akhirnya Bunda ikut bantu, ternyata sepatu ada dibawah bangku kain paco, padahal udah disediakan rak, tapi tetap juga sepatu istirahat ditempat tersembunyi.

Jam udah menunjukkan pukul 07:32, Karim dan bunda udah siap, Akhirnya Ara keluar dari kamar sambil ngeleyot ke Bunda, biasa mau dipangku dulu, di meja udah ada dadar dan secangkir susu untuk Ara.


Setelah memesan Maxim, Bunda pamit berangkat kerja bersama Karim.

Di atas motor, Karim tak banyak bicara, sepertinya masih lelah juga heheh, padahal biasanya banyak cerita.


Akhirnya Bunda bilang " Karim, besok besok, Bunda minta tolong, untuk perlengkapan Karim, siapkan malam ya Nak, biar ndak terjadi kayak tadi lagi" sambil ujung jilbab bunda berkibar diatas maxim


"Iyaa nda" ucap Karim sambil senyum dan mengedipkan mata


Hmm..


Alhamdulillah, moodnya kembali baik, sengaja Bunda tidak masuk ke pekarangan sekolah, ngantarnya cukup sampai pagar.

Dengan bahagia Karim masuk pekarangan sekolah sambil menggondong tas orensnya.


"Bahagia sekolah ya Nak" teriak bunda diatas maxim

"Oke nda" ucap Karim sambil mengancungkan jempol


Heheh cerita pagi ini sekian dulu yaa, Bunda mau lanjut kerja..


See u


#tulisanamie


Akhir bulan Agustus 2026 

09:10 Wib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...