Langsung ke konten utama

| Gerimis Day 21|

 | Gerimis Day 21|


"Bu, saya mau minta tolong rujukan unk Ayah saya Bu" ucapku kemudian

"Oh papanya sakit kaki ?" ucap sang dokter

"Iya bu, kata Papa minta tolong minta rujukan unk ronsen ke RS" ucapku menimpali.


"wah, belum bisa sekarang rujukannya, nanti tgl 1 bisanya" keluh dokter

"e kan sakitnya sekarang bu, kok ndak bisa bu?" ucapku agak pakai intonasi.

"ya sekarang BPJS membatasi, kita hanya dapat 110 rujukan, dan sekarang sudah habis" ucap sang dokter


Bentar bu, saya hubungi papa dulu ya Bu.


Tett.. tett..


"Assalamu'alaykum " ucapku dari ruang praktek di klinik msaih dihadapan sang dokter

Ternyata mama yang angkat.

"Wa'alaykumussalam " Ucapa mama disana


"Ma, kata dokter rujukannya ndak bisa dikasih ma" ucapku

Eh tiba tiba disanggah sama dokter


"ee jangan bilang ndk bisa, bilang diundur, jgn gitu lah memburukkan nama itu" kata dokter disela aku sdg bicara sama mama

"kasih info yg benar" ucap dokter lagi.


Akhirnya aku serahkan hp ke sang dokter

dan beliau yang bicara ke mama, menjelaskan secara terperinci.


Hehe aku sih tertawa dalam hati, lihat gelagat sang dokter.


Akhirnya memang rujukan itu tidak kita dapatkan, hanya resep yg bisa kita bawa keluar ruangan.


#gerimis30hari

#gerimis_Des24_21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...