Langsung ke konten utama

Perjalanan Duri Riau - Padang West Sumatera

"Bang, ada travel untuk berangkat malam ini ke Padang?" suara Abang Iparku di hp sony nya terdengar.
"Oke Bang, di Tahap 1 ya dekat Hotel Surya", ucap Abang kembali.

Alhamdulillah, long weekend kali ini aku isi dengan vacation ke Humairah House di Duri Bengkalis Riau.

Perjalanan Rabu sore itu, memakan waktu terasa lebih lama dari biasanya, karena di Kobar depan MAPK Kobar, dapat berita kalau terjadi banjir, telaga di depan MAPK tersebut katanya meluap. Aku dengan armada BusYanti Group dapat duduk  dikursi No 20.

Setelah minta izin di office, pukul 14.30 aku udah stay di stasiun kereta api Tabing, eits.. aku bukan nunggu kereta api ya, tapi lagi nunggu armada menuju ke Duri. Ternyata, setelah diantar oleh My Father ke Tabing tersebut, sudah ada 2 orang penumpang yang juga sama-sama menuju Duri.

"Awak katampek Uda wak mah ke Duri, Adiak kama ke Duri tu?" Tanya seorang ibu yang juga menunggu Armada Yanti Group.
"Kalau awak tampek Kakak Buk" Jawabku singkat.
Percakapan ringan tersebut terhenti disaat armada yang kami tunggu telah berhenti di depan kami.

Hujan rintik menemani perjalanan kami sore itu, ternyata Ibu yang aku temui di Stasiun tadi, dapat duduk bersebrangan tempat duduk dengan ku. Beliau yang seorang staf di kantor Lurah simpang Gia, juga memanfaatkan long weekend ini untuk mengunjungi orang terkasih.

Syukurlah..

(kalau ng salah ini sebelum humayrah lahir) ^^

*ternyata ini masih didraf blog aku. hmm.. saatnya posting, walau sebenarnya ceritanya belum menuju sasaran ^^



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rayuan ahli tajwid kepada istrinya

Copas Refresh siang hari RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA Neng, saat pertama kali  berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam ...

Gadget oh Gadget...

Pagiii All... Sahabatku, ngerasain ng pas kita lagi kumpul, entah itu dimana dan dengan siapa... pastinya sibuk dengan gadget masing- masing. Ng itu kamu aja, aku pun demikian...  nah... baca yuk sedikit inspirasi dari slah satu teman... bisa juga ke link berikut : http://gayagadgets.blogspot.com/2015/03/waspadai-bahaya-gadget-dan-media-sosial.html moga bermanfaat.... Waspadai Bahaya Gadget dan Media Sosial Bagi Keutuhan Keluarga Rasanya sudah saat nya kita  lebih  mewaspadi bahaya  gadget dan media sosial bagi keutuhan keluarga. P ernah lihat sepasang muda-mudi di cafe atau tukang bakso langganan? Mereka datang berdua, tapi masing-masing hidup dan berada dalam dunianya sendiri. Sang cowok bersibuk ria dengan BBM sementara, Ceweknya tenggelam dalam status update temannya. Lebih bahayanya lagi, pemandangan seperti itu bukan cuma terjadi di luar rumah dan melanda pasangan-pasangan muda. Budaya seperti itu sudah merayap masuk dal...

Waktu berlalu

Waktu berlalu... Begitu halus menipu... Tadi pagi belum sempat dzikir pagi, - Tahu-tahu sudah jam 9.00 pagi. Belum sempat sedekah pagi, - Matahari sudah meninggi. Rencananya jam 9.30 mau sholat dhuha, - Tiba-tiba adzan dhuhur sudah terdengar. Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al Qur'an atau minimal satu  surat  satu ayat - Tapi ya itu, "pinginnya itu"  dan kebiasaan itu belum terlaksana. Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. - Dan komitmen itu belum dilaksanakan. - Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah lebih sehingga belum merasa taubat. Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya. - Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, - Dan itu sudah berlangsung tahunan yang lalu... Akan terus beginikah nasib "hidup" kita? - Menghabis-habiskan umu...